KYAI KHOLIL BANGKALAN GURU BESAR BEBERAPA ULAMA NUSANTARA DAN MANCANEGARA.

Iklan Atas Semua Halaman

.

https://jejetrans.com/

Loading...

KYAI KHOLIL BANGKALAN GURU BESAR BEBERAPA ULAMA NUSANTARA DAN MANCANEGARA.

 



Jejenews.co.id Madura, Rabu 22 Juni 2022 - Kyai Haji Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif merupakan ulama legendaris asal Bangkalan, beliau dikenal sebagai Mbah Kholil yang juga merupakan guru dari beberapa ulama besar nusantara diantaranya  KH Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan KH Ahmad Dahlan pendiri Muhamadiyah.


Maka tidaklah heran akan pengaruh besar dua ormas islam ini di bangsa Indonesia menjadikan Mbah Kholil bisa disebut sebagai guru semua masyarakat nusantara bahkan ke mancanegara, hal tersebut di karenakan ilmu yang diajarkan beliau sudah menyebar kemana-mana hingga ke pelosok negeri di Indonesia.


Mbah Kholil dikenal dengan ketokohannya yang kharismatis hingga kesaktiannya. Berideologikan ahlus sunnah wal jamaah, Mbah Kholil menyebarkan keislaman yang penuh sopan santun, sejuk, dan tidak radikals kepada murid-muridnya serta pula kepada masyarakat.


Gubernur Provinsi Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sangat mendukung atas penyematan gelar pahlawan nasional kepada Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif sebagai ulama legendaris asal Bangkalan, yang mana penyematan ini menurut Khofifah sebagai tanda atas jasa Syaikhona Kholil dalam menyebarkan agama Islam di nusantara.


Lalu siapa sebetulnya Syaikhona Kholil bin Abdul Latif ini? 

Syaikhona Kholil atau yang akrab disapa Mbah Kholil Bangkalan, lahir di lingkungan Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, pada 1820. Beliau meninggal di Martajasah pada 1925.



Di antara para murid Mbah Kholil yang berhasil dicatat banyak menjadi tokoh ulama nusantara yang diantaranya KH Hasyim Asy’ari pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (organisasi terbesar di Indonesia), Kyai Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), Kiai Bisri Syansuri (Jombang), Kiai Abdul Manaf (Lirboyo-Kediri), Kiai Maksum (Lasem), Kiai Munawir (Krapyak-Yogyakarta), Kiai Bisri Mustofa (Rembang Jateng), Kiai Nawawi (Sidogiri), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kiai Abdul Majjid (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Abi Sujak (Astatinggi Kebun Agung, Sumenep), Kiai Usymuni (Pandian Sumenep), Kiai Muhammad Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Khozin (Buduran Sidoarjo), dan banyak kiai sepuh lainnya di masa itu.


Oleh karena catatan tersebut menurut Khofifah menyebut Mbah Kholil adalah salah satu referensi cara beragama yang penuh dengan toleransi seperti yang diajarkan di NU saat ini, dan menurut Khofifah penyematan pahlawan nasional kepada Mbah Kholil harus didukung akan kiprah dalam perjuangannya.


" Syaichona Kholil merupakan referensi akan lahirnya organisasi NU yang merupakan jaringan terbesar Islam di dunia yang melahirkan sifat-sifat toleransi dan moderenisasi yang dibentuk melalui organisasi sosial keagamaan NU dan terlahir atas restu beliau," kata Khofifah selaku Gubernur Provinsi Jawa Timur.


Sedikit sekali tokoh muslim NU serta jarang sekali yang mencatat jasa-jasa perjuangan dan pengorbanan yang kemudian diusulkan mendapatkan gelar, Muridnya Syachona Kholil antara lain adalah Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Abdul Wahab Hasbullah, dan Kyai As’ad Syamsul Arifin yang mana mereka semua sudah mendapatkan gelar pahlawan nasional, karena proses sudah diusulkan, " imbuh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indah Parawansa ".

(Andre/Red/Jejenews)